Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 14 November 2011

Menulis Surat Dagang dan Surat Kuasa

KD 4.2 Menulis Surat Dagang dan Surat Kuasa

Indikator :
1.    Mendaftar ciri-ciri surat niaga dan surat kuasa
2.    Menulis surat perjanjian jual-beli dan surat kuasa sesuai dengan keperluan
3.    Menjelaskan isi surat perjanjian jual-beli dan surat kuasa
4.    Memperbaiki surat perjanjian jual-beli dan surat kuasa hasil tulisan teman berdasarkan struktur kalimat dan EYD.

SURAT NIAGA

1.    Mendaftar ciri-ciri surat niaga
      Pengertian :
surat yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha seperti UD, CV, atau PT dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya.

      Tujuan :
Sebagai tanda bukti, terutama jika terjadi hal-hal yang berkaitan dengan hukum, misalnya penipuan atau pelanggaran.

        Macam-macam :
a.       Surat permintan penawaran barang
b.      Surat penawaran barang
c.       Surat permintaan barang (pemesanan)
d.      Surat klaim (tuntutan ganti rugi)
e.       Surat pengantar barang
f.       Surat perjanjian (jual beli, kontrak, sewa menyewa, pinjam uang, kerja sama, dsb)

        Ciri-ciri Surat Niaga :
a.       Berkaitan dengan perniagaan,
b.      Berisi transaksi perniagaan dan kerja sama,
c.       Isinya berkaitan dengan barang atau layanan jasa perniagaan,
d.      Bersifat deskriptif, argumentatif, dan persuasif,
e.       Bahasa yang digunakan satndar (baku), dan
f.       Menggunakan penalaran induktif dan deduktif sekaligus.

        Hal –hal yang harus diperhatikan dalam menulis surat niaga :
a.       Menetapkan tujuan, misalnya untuk menawarkan atau meminta
b.      Menetapkan isi surat yang akan disampaikan
c.       Penetapan tata urutan isi surat
d.      Menyelesaikan setiap bagian isi surat satu per satu secara teratur dengan menggunakan kalimat yang lengkap dan mudah ditangkap maknanya
e.       Hindari penggunaan singkatan yang belum lazim digunakan
f.       Perhatikanlah penggunaan tanda baca dan ejaan


2.    Menulis surat perjanjian jual-beli sesuai dengan keperluan

Surat Permintaan Penawaran
*      dikirim seseorang atau badan usaha sebagai calon pembeli
*      isinya meminta pengiriman daftar barang beserta harganya.
*      Calon pembeli tersebut meminta informasi yang lengkap mengenai produk dan harga setiap produk. Biasanya calon penjual akan membalas surat permintaan penawaran tersebut dengan melampirkan katalog atau brosur harga produk.
*      Bagi calon pembeli, hal yang perlu diperhatikan dalam membuat surat permintaan penawaran adalah sebagai berikut.
1.      Menetapkan jenis barang dan waktu barang tersebut diperlukan.
2.      Meminta informasi yang lengkap tentang cara pembayaran, syarat penyerahan dan pengiriman barang, serta potongan harga lainnya.
3.      Meminta daftar harga atau katalog, brosur, serta contoh barang yang diperlukan.


Surat Penawaran
*      Surat penawaran adalah surat yang dikirim pihak penjual kepada calon pembeli untuk menawarkan barang dagangannya.
*      Supaya calon pembeli menjadi tertarik membeli barang dagangan itu, penjual harus pandai-pandai menarik minat pembeli malalui suratnya. Gaya bahasa harus dibuat semenarik dan sejelas mungkin supaya pembeli yang pada mulanya tidak menaruh minat dapat berubah pikiran dan ingin membelinya.
*      Adakalanya surat penawaran dikirim untuk membalas surat permintaan penawaran yang diajukan calon pembeli. Oleh karena itu, di dalam surat penawaran, sebaiknya juga disebut nomor dan tanggal surat permintaan penawaran tersebut, supaya calon pembeli dapat mengingat surat permintaan penawaran yang pernah dibuatnya. Apabila tidak dapat memenuhi permintaan penawaran tersebut, sebaiknya pihak penjual menuliskan alasannya dengan jelas sambil mencoba menawarkan produk lain sejenis sesuai kebutuhan calon pembeli.


Surat Perjanjian Jual - Beli
*      Surat perjanjian jual-beli dibuat oleh pihak penjual dan pihak pembeli.
*      Di dalam surat tersebut dinyatakan secara tertulis kesepakatan antara kedua belah pihak.
*      Berisi pernyataan secara tertulis mengenai kesepakatan yang menyatakan bahwa pihak penjual wajib menyerahkan barang dan berhak atas pembayaran barang itu. Sebaliknya, pihak pembeli berhak atas penerimaan barang dan wajib membayar harga barang itu kepada pihak penjual.
*      Dalam surat perjanjian jual-beli, barang yang dapat diperjanjikan berupa barang bergerak seperti alat-alat perabotan dan kendaraan; dan barang-barang tidak bergerak atau barang tetap, contohnya adalah rumah, gedung, dan tanah.

*      SYARAT – SYARAT            :
a.       Surat perjanjian harus mengandung persetujuan secara mufakat. Artinya isi surat perjanjian dibuat oleh kedua belah pihak  (atau lebih) dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari pihak manapun ;
b.      Kedua pihak atau lebih mengadakan perjajian harus sudah mampu bertindak  secara hukum;
c.       Isi surat perjanjian harus dicantumkan secara eksplisit, jelas, dan tidak bertafsir ganda;
d.      Isi surat perjanjian tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku;
e.       Surat perjanjian harus ditandatangani oleh kedua belah pihak atau lebih dengan saksi-saksi yang ditunjuk serta disahkan oleh yang berwenang.

*      BAGIAN – BAGIAN            :
a.       Judul perjanjian
Bagian ini merupakan hal yang pokok yang harus dicantumkan dalam surat perjanjian. Judul diletakkan di tengah-tengah dan ditulis dengan huruf kapital.
b.      Identitas orang atau badan hukum yang mengadakan perjanjian
c.       Pernyataan permufakatan, yaitu dari kedua belah pihak.
d.      Isi perjanjian
Dalam isi perjanjian dikemukakan objek perjanjian, hak-hak, dan kewajiban pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.
e.       Saat berlaku serta jagka waktu berlakunya surat perjanjian
f.       Domisili
Domisili adalah tempat diadakannya perjanjian. Domisili perlu disebutkan karena untuk menentukan wilayah hukum yang akan dipergunakan apabila terjadi perselisihan di kemudian hari.
g.      Penutup, merupakan bagian akhir suatu perjanjian.


3.    Menjelaskan isi surat perjanjian jual-beli
*      Hal-hal penting yang ada dalam surat perjanjian jual-beli :
1.      Identitas penjual dan pembeli (nama, alamat, dan pekerjaan),
2.      Nama dan spesifikasi objek yang diperjualbelikan (nama barang, alamat, jenis, dan nomor seri jika ada),
3.      Nilai transaksi jual beli barang,
4.      Waktu dan tempat penyerahan barang,
5.      Kewajiban penjual dan pembeli setelah transaksi selesai dilakukan,
6.      Proses dan biaya balik nama,
7.      Cara penyelesaian jika terjadi sengketa, dan
8.      Tempat dan tanggal ditandatanganinya surat perjanjian dan saksi-saksi.
*      Contoh :
Nurani Putri, sebagai penjual, beralamat di Jalan Ir. H. Juanda 213 Bandung, bekerja sebagai pegawai Pemkot Bandung dan Astrid Nurlaila sebagai pembeli, beralamat di Jalan Sultan Hadrilin II nomor 8 Bandung, pekerjaan wiraswasta telah sepakat untuk menjual dan membeli sebuah rumah yang terletak di Jalan Rajawali No. 12, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Jawa Barat beserta pekarangannya dengan harga Rp80.000.000,00. Terdiri dari sebidang tanah dengan luas 500 meter persegi (25 m x 20 m), dengan sertifikat Nomor 20 tanggal 5 Januari 1997. Tidak termasuk dalam jual beli tersebut adalah segala perabot rumah tangga yang merupakan barang bergerak, yang terdapat dalam rumah tinggal tersebut atau dalam pekarangannya. Rumah tersebut akan diserahkan kepada pembeli pada saat perjanjian ini ditandatangani pada 23 Agustus 2010. Saat itu pula, pembayaran tunai dilakukan di rumah penjual. Segala tunggakan pajak dan lain-lain hingga saat penyerahan sertifikat, surat-surat lainnya, dan kunci-kunci tetap merupakan tanggung jawab penjual. Biaya balik nama atas sertifikat tanah atas nama pembeli menjadi beban pembeli. Saksi-saksi dari jual-beli ini adalah Nadia dan Vicky.

4.    Memperbaiki surat perjanjian jual-beli hasil tulisan teman berdasarkan struktur kalimat dan EYD

 

SURAT KUASA                

1.    Mendaftar ciri-ciri surat kuasa
      Pengertian       :
Surat kuasa merupakan surat yang berisi kewenangan dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa untuk melakukan sesuatu atas nama pemberi kuasa.
      Pemberi dan penerima kuasa bisa perorangan atau lembaga.
     Jika pemberi kuasa itu perorangan surat itu termasuk surat pribadi.
     dan jika pemberi kuasa itu lembaga, surat itu termasuk surat dinas.
      Surat ini biasanya berkenaan dengan kegiatan pelaksanaan penugasan kegiatan penting
Oleh karena itu, biasanya surat kuasa ditempeli materai pada kolom tanda tangan pemberi kuasa
      Ada 2 pihak yang berkepentingan :
1.      Pihak yang memberi kuasa; harus menyebutkan jenis pelimpahan kekuasaan, atas nama pribadi atau atas nama organisasi.
2.      Pihak yang diberi kuasa
      Surat kuasa yang dibuat atas nama pribadi tergolong surat pribadi dan surat kuasa yang dibuat untuk mewakili seorang pejabat di dalam organisasi termasuk surat organisasi.
      Pemakaian surat kuasa di dalam organisasi :
1.      Surat kuasa untuk keperluan intern organisasi
Dalam surat kuasa yang bersifat intern, data pribadi kedua belah pihak tidak perlu dicantumkan secara rinci.
2.      Surat kuasa untuk keperluan ekstern organisasi
Harus dicantumkan secara jelas dan rinci :
a.       Data pribadi pihak yang memberi kuasa.
b.     Data pribadi pihak yang diberi kuasa.
c.     Bentuk kekuasaan yang diberikan lengkap dengan batas-batasnya.
      Ciri-ciri Surat Kuasa
Aspek-aspek
Ciri-ciri Surat Kuasa
Pihak yang terlibat
Adanya pemberi kuasa dan penerima kuasa. Pemberi kuasa cenderung mempunyai posisi lebih tinggi dari yang diberikan kuasa.
Isi atau perihal
Isi atau perihal yang dikuasakan bisa berupa pekerjaan, kegiatan, atau kewenangan.
Format
Tidak ada format yang standar, tetapi pemberi kuasa selalu dinyatakan labih dahulu diikuti yang menerima kuasa.
Bahasa yang digunakan
Padat, ringkas, dan langsung kepada pokok persoalan.
Batas waktu
Adanya batas waktu pemberlakuan atau pemberian kuasa. Artinya, pemberian kuasa itu tidak berlaku selama-lamanya.
      Syarat-syarat untuk membuat surat kuasa
1.      Surat kuasa untuk perseorangan tidak perlu mencantumkan nomor surat kuasa.
2.      Surat kuasa untuk mengambil gaji/honorarium tidak perlu dibubuhi materai.
3.      Bila menyangkut aspek hukum, untuk instansi (kedinasan), atau uang yang bernilai mulai lima ratus ribu rupiah, surat kuasa harus dibubuhi materai.
      Besar nilai materai disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
      Letak materai adalah pada posisi pemberi kuasa.
      Surat kuasa tidak perlu diberi materai jika ditulis di atas kertas segel.
4.      Surat kuasa diberikan kepada seseorang yang sekiranya dapat dipercaya.
Orang yang memberi kuasa dan yang diberi kuasa harus sudah dewasa, sehat rohani, dan jasmani.
5.      Surat kuasa perlu mencantumkan tempat dan tanggal surat kuasa dibuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar